Senin, 31 Juli 2017

pesan singkat yang aku titipkan pada mimpi

pukul 12:24 malam hari,
di kota Surabaya.

aku menulis pesan ini,
pesan yang tidak akan pernah sampai kepadamu,
cukup mereka saja yang tahu.

aku selalu menulis hal yang menyangkut cinta,
padahal aku tidak tahu banyak tentangnya.
bukankah itu lucu?
tapi, itu dan hanya itu yang bisa menjadi penghibur sekaligus penyiksa bagiku.

mau tau kenapa?
dengan menuliskan sesuatu yang mengandung tentang cinta, kegelisahanku sedikit terobati.
hampir setiap hari aku gelisah, memikirkan hal-hal tidak penting tentang cinta, padahal dunia tidak hanya tentang cinta.
iya, semua ini karena kamu.

aku harap kamu jangan pernah berpikir ingin menjadi wanita.
yang selalu berpikir memakai perasaan, cuma bisa bikin buang tenaga.
kalau aku, ingin sehari bertukar posisi denganmu.
bagaimana rasanya melihat orang lain mencintai dirimu,
tanpa pernah tau bahwa orang itu ternyata ada disana,
selalu memperhatikanmu dan berharap kamu baik-baik saja.

menurutku, nggak salah kok kamu berbuat seperti itu.
sungguh, bukan salahmu.
hanya saja keegoisan dalam diriku mengalahkan akal sehatku, karena ingin terus memilikimu.
baiklah, untuk saat ini biarkan aku tetap seperti ini, menderita dalam sepi, bersama tulisanku tentang cinta untukmu.

semoga malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak.
dan, semoga kamu mampir di mimpiku, walaupun hanya menjadi bintang yang tak akan pernah ku genggam.


semoga.
-

Minggu, 30 Juli 2017

mengenal cinta, haruskah?

apa yang bisa ku dapatkan dengan cinta?
kebahagiaan atau justru penyesalan?
sejauh ini, setelah aku bertemu dan membiarkan diriku terjatuh dalam 'cinta', semakin aku sadar bahwa cinta itu layaknya bunga mawar.
terlihat sangat indah, namun misterius dan menyakitkan.

bolehkah aku bertanya pada kalian; para pecandu cinta--bagaimana rasanya mendapatkan sesuatu yang sebenarnya hanya angan?
pernahkah kalian merasa hanya membuang waktu memikirkan dia yang ditakdirkan untuk menjadi milik manusia lain?
pernahkah kalian ingin bertanya mengapa cinta bisa tumbuh tanpa tau penyebabnya?

sungguh, aku ingin tahu.

Menjadi dewasa; menyenangkan atau menyedihkan?

Dulu, waktu masih belum kenal sama yang namanya dunia, pengen banget gitu jadi orang dewasa. Alesannya? Biar bisa bebas.

18 tahun idup jadi manusia, lama-lama capek juga berhubungan dengan segala hal yang dikiranya nyata ternyata cuma delusi. Berharap semua keinginan bisa berubah jadi realita yang menyenangkan dan tampak indah untuk dijalani, tapi nyatanya, bisa bikin otak semula bulet jadi kotak. Bahkan segitiga.

Eh, gak juga deng. Hahahaha.

Pengen nulis ini karena dapet inspirasi setelah ngerasain di-phpin hampir dua bulan gara-gara berebut kursi yang 'katanya' bisa bikin masa depan lebih cerah, padahal nggak juga.
Masa depan cerah semuanya tergantung dari pribadi masing-masing. Niat atau nggak buat berjuang di dunia yang penuh dengan kebohongan; kepalsuan; dan rekayasa yang bikin orang jadi lupa kalo semua ini sebenernya sementara. 

Yaa, sebenernya agak mual juga nulis beginian, bukan aku banget gitu. Hahahahaha. 

Tapi, emang ya manusia mulutnya gampang banget suruh orang lain buat bersyukur, padahal dirinya aja belum tentu bisa mensyukuri nikmat-Nya.
Belum nemuin--atau emang nggak ada kali ya--manusia yang bisa puas sama apa yang udah dimilikin. Bohong banget lah, kalo sampe ada yang bilang dirinya udah puas dan nggak pengen apa-apa lagi.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Oke, kembali ke topik, sebenernya jadi dewasa itu menyenangkan atau justru menyedihkan sih?
Buat aku yang masih sekitar 18 tahun hidup di Bumi ini, yang baru setahun resmi dapetin KTP dan SIM, belum bisa menyimpulkan dengan jelas banget sih.

Karena, proses pendewasaan diri itu kan nggak sama tiap orang.
Definisi dewasa juga beda-beda sih tiap individu. Ada yang mengartikan dewasa itu dilihat dari sifat dan sikapnya, ada yang ngeliat dari jumlah umurnya.

Kalau menurutku, menjadi dewasa itu, sangat menyedihkan. Senengnya? Kira-kira 0,1 % aja. Sisanya, menyiksa batin pemirsa. 

Penambahan umur tiap tahun yang sering kita sebut dan rayakan sebagai ulang tahun, sebenernya sama aja ngerayain berkurangnya jatah hidup di dunia ini. Ya, tapi gimana lagi, namanya juga manusia, kalo ada yang ngucapin juga seneng-seneng aja, hehehe.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sepertinya, apa yang ditulis ini sangat tidak mencerminkan judulnya, malah kebanyakan bahas kejelekan manusia ya?

Baiklah, pada intinya jadi dewasa itu nggak enak, bikin stres, menyedihkan iya, ada senengnya iya, jatah duit berkurang (harus banget ditulis), mikirnya buat jangka panjang, dan nggak gegabah ngambil keputusan.

Untuk siapapun yang membaca tulisan tidak jelas ini, apalagi yang masih merasa belum menjadi dewasa seutuhnya--yang nulis juga belum dewasa seutuhnya kok guys--perbanyaklah ilmu tentang akhirat dan seimbangkan dengan ilmu dunia. Sesungguhnya, ilmu akhirat yang bisa membantu kalian dalam proses menjadi manusia dewasa untuk sanggup menghadapi manis pahitnya dunia ini.

Sekian.
Salam super.


Selasa, 10 Mei 2016




Berlari untuk Kembali
  

Lubang-lubang menjadi batas,
pemisah dua insan yang terikat.
Meleburkan luka.
Rintihan kehilangan, 
terdengar sebagai nyanyian para penanti.
Menanti dia yang pergi, berlari untuk kembali.

Sabtu, 07 Mei 2016

Pernah aku berkata pada matahari,
merindunya dikala senja berganti fajar.
Pernah aku berteriak pada awan,
perasaan apa yang telah menghujam benakku, sunyi, getir, namun tersurat.
Pernah aku berbisik pada bulan,
dimanakah dirinya, yang pernah mengalunkan nada-nada indah, terdengar merdu, namun perih.

Berhenti.
Aku berhenti mencari.
Titik kelemahan dalam dirinya.

Berlari.
Aku mulai berlari, bodoh.
Hembusan angin, seolah menertawakanku.
Apa yang ku cari?
Dirinya?
Atau sekedar, tatapan matanya?
Agar tetap membuatku berdiri, diatas kakiku sendiri.

Hening.
Terpaku menyaksikan semesta, menari riang di hadapanku, menyisakan tetesan lembut menyapa pelupuk mataku.

Disanalah ia.
Tersenyum.
Kehangatan yang selama ini ku cari, telah kembali.
Memori ini sungguh payah.
Tidak.
Ia tak akan kembali, meskipun melingkarkan tangannya, membelai lembut mahkotaku.
Tenanglah disana, kamu yang pernah kunanti.

Rabu, 03 Juni 2015

Kangen

Kangen.
Kata lainnya, rindu.
Ya, saat ini saya merindukan momen yang terlewatkan.
Momen yang tak akan pernah terulang kembali.
Momen yang sulit kembali seperti semula.

Saat ini, saya merasa bodoh.
Orang-orang yang saya kenal, perlahan menjauh.
Kehidupan saya yang dulu ramai dan berwarna, berubah pudar dan abu-abu. Biasa saja.
Saya bingung, kesalahan apa yang telah saya buat sehingga semua terasa dingin, tanpa kata.

Intinya, saya kangen.
Saya rindu.
Saya ingin semua kembali.
Saya ingin menjadi pribadi yang dulu.
Saya rindu.



:(
:) 

Selasa, 02 Juni 2015

Dua sisi.

Terkadang, menjadi orang yang menyenangkan itu, membahagiakan.
Melihat orang lain tertawa karena tingkah laku kita, saya sendiri merasa sangat bahagia.
Ada kala, dimana saya merasakan kesepian teramat dalam ketika mendapati bahwa saya sebenarnya sendiri. Hanya sendiri.

Saya hanyalah manusia biasa. Yang memiliki dua sisi dan sangat berbeda satu sama lain.
Didepan publik mungkin saya terlihat sangat riang, cerewet, dan berisik.
Tapi, saya juga punya sisi dimana saya merasakan kesedihan dan keperihan akibat perbuatan yang mungkin secara tidak sengaja, saya lakukan.
Seandainya waktu dapat berputar, rasanya ingin saya hentikan waktu. Menghapus momen ketika saya melakukan perbuatan itu, yang membuat orang lain menjadi tidak menyukai saya walaupun tidak terus terang dihadapan saya.

Kini, saya merasa hampa dan sepi. Ingin menumpahkan segala emosi dan amarah. Air mata tidak akan menyelesaikan segalanya. 

Inilah saya, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang pernah membuat anda kecewa.